Saat Tak Ada yang Melihat
Pernahkah kita berhenti sejenak dan merasakan betapa nikmatnya momen saat pintu kamar tertutup rapat? Di ruang itu, tidak ada atasan yang mengawasi kinerja, tidak ada tetangga yang mengomentari penampilan, dan tidak ada kawan yang siap melontarkan kritik. Hanya ada kita, helaan napas, dan mungkin selimut yang hangat. Di sanalah kita merasa menjadi raja atas diri sendiri. Semua topeng sosial yang kita kenakan seharian seolah luruh satu per satu. Kita merasa aman. Merdeka. Seolah beban dunia tak mampu mengetuk pintu.
Namun, di balik rasa aman yang semu itu, seringkali kita justru lengah terhadap satu kenyataan pahit. Dan justru di ruang kosong tanpa saksi mata inilah, ujian paling fundamental bagi keimanan seorang muslim dimulai. Kita kerap menganggap remeh kesendirian. Padahal, ia adalah medan perang bisu antara suara hati nurani melawan gemuruh hawa nafsu yang tak terkendali. Jika di keramaian kita tertahan oleh malu dan takut celaan manusia, di dalam sunyi tidak ada lagi tembok penghalang semacam itu. Semua pagar telah runtuh, menyisakan diri kita yang telanjang di hadapan pilihan: taat dalam diam, atau bermaksiat dalam gelap.
Kita sering berasumsi bahwa “sendirian” berarti kosong melompong tanpa teman. Anggapan itu keliru besar. Dalam kacamata akidah Islam, tidak ada ruang yang benar-benar hampa dari penghuni. Ketika seluruh manusia berpaling dari kita, di situlah makhluk lain mendekat untuk mengisi kekosongan jiwa. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat gamblang tentang dinamika ini. Dari ‘Abdullah bin ‘amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,
الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ
“Sesungguhnya orang yang berkendaraan (sendirian) itu (ditemani) setan. Dua orang yang berkendaraan itu (ditemani) dua setan. Adapun tiga orang, maka itu adalah rombongan (yang selamat dari setan).” (HR. Abu Dawud no. 2607, At-Tirmidzi no. 1674, dan dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi, serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2797)
Hadis ini membongkar ilusi kita tentang sepi. Ternyata, kursi kosong di samping kita saat menyetir sendiri, atau sudut kamar yang gelap saat kita terjaga di malam hari, berpotensi menjadi singgasana bagi musuh abadi kita, yaitu Iblis dan bala tentaranya.
Sepi yang tidak pernah hampa
Mungkin dalam persepsi awam, kesendirian sering dinilai sebagai kondisi netral; ibarat kanvas kosong yang bisa diisi apa saja. Namun, syariat justru memandangnya sebagai kondisi yang sangat rawan dan kritis. Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba menjauh dari interaksi sosial yang positif, pintu al-khatharat (bisikan-bisikan jiwa) akan terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk dengan urusan duniawi, tiba-tiba memiliki ruang kosong untuk mengembara ke lorong-lorong masa lalu yang kelam atau fantasi masa depan yang tak halal. Di sinilah, dalam terminologi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, terjadi al-khalwah al-murdiyah—kesendirian yang justru menjerumuskan.
Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1: 62) mengibaratkan hati yang kosong dari zikrullah sebagai rumah kosong tak berpenghuni. Rumah itu akan segera ditempati oleh para penyamun. Beliau berkata, “Hati yang kosong dari mengingat Allah, setan akan menempatinya. Ia akan menjadikannya sebagai sarang dan tempat menetap. Maka, tidaklah hati itu kosong dari zikir, kecuali akan ditempati oleh bisikan-bisikan buruk.”
Oleh karenanya, kesendirian tanpa kehadiran hati bersama Allah adalah celah selebar-lebarnya bagi musuh untuk menyusup. Tidak perlu paksaan fisik, cukup dengan sugesti halus yang dibungkus dengan logika menipu, “Ah, cuma lihat sebentar, nggak ada yang tahu” atau “Sekali ini saja, habis itu tobat.”
Proses ini berlangsung secara gradual, mengikuti langkah-langkah setan yang Allah Ta’ala abadikan dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka ketahuilah, ia menyuruh kepada perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS. An-Nur [24]: 21)
Setan tidak langsung mengajak pada puncak kemungkaran. Ia memulai dengan langkah-langkah kecil, mulai dari rasa penasaran, pandangan sekilas, atau lamunan kosong. Langkah-langkah itu paling efektif dijejakkan saat kita merasa tidak ada yang mengawasi. Maka, kondisi sendiri jangan pernah anggap remeh. Takutilah kondisi ini, karena kesendirian bisa mengakibatkan kehancuran bilamana tidak ada kekuatan iman yang menahannya, jiwa akan tertarik jatuh ke jurang kemaksiatan
Mengapa musuh lebih suka kita sendirian?
Pertanyaan ini sederhana, namun jawabannya menelanjangi kelemahan fitrah kita. Setan menyukai orang yang sendirian karena tidak ada penghalang (mani’) yang menghambat aksesnya. Saat kita duduk bersama orang-orang saleh, atau bahkan sekadar ditemani anggota keluarga yang menjaga pandangan, terdapat semacam kontrol sosial alami. Ada rasa malu jika ketahuan melakukan aib. Ada kemungkinan ditegur jika mulai menyimpang. Ada pihak ketiga yang bisa memutus aliran bisikan jahat. Inilah yang dalam kaidah fikih disebut الاجتماع على الخير (berkumpul di atas kebaikan) sebagai benteng pertahanan.
Sebaliknya, dalam kesendirian, semua mekanisme pertahanan itu lenyap. Tidak ada yang akan menegur, tidak ada yang akan mengingatkan, dan tidak ada yang akan tahu persis apa yang dilakukan oleh jemari atau dijelajahi oleh mata. Setan memanfaatkan ilusi “tidak ada yang tahu” ini untuk mengendurkan ikatan iman di hati.
Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis menegaskan bahwa tipu daya Iblis yang paling hebat adalah membuat manusia merasa aman dari makar Allah. Beliau menulis, “Khalwat (menyendiri) adalah pintu masuknya segala keburukan bagi orang yang tidak mengawalinya dengan zikir dan tilawah. Setan mengincar orang yang menyendiri dari ketaatan kepada Allah, lalu menggiringnya menuju kemaksiatan.”[1]
Situasi ini semakin runyam jika kita refleksikan dengan kondisi zaman ini. Dahulu, “sendiri” berarti benar-benar terisolasi secara fisik. Sekarang, “sendiri” seringkali berarti hanya berdua dengan gawai yang terkoneksi internet. Sebuah paradoks yang mengerikan! Karena tubuh kita sendiri di kamar, namun jiwa kita “ditemani” jutaan konten dan interaksi maya yang seringkali justru menjadi corong setan. Layar gawai menjelma menjadi teman yang tidak pernah menegur maksiat, melainkan justru memfasilitasinya dengan sekali sentuh. Allah Ta’ala telah mengingatkan tentang pengetahuan-Nya yang mutlak menembus sekat ini,
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)
Lisan kita mungkin diam, mulut tak berucap, namun pandangan mata yang liar saat sendiri, dan pikiran kotor yang bersemayam di dada, semuanya tercatat rapi di sisi-Nya tanpa ada yang terlewat. Setan membisiki bahwa tidak ada manusia yang melihat, tapi ia sengaja menutupi fakta bahwa Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) tidak pernah berkedip.
Anti-klimaks iman
Satu hal yang wajib kita pahami tentang skenario setan adalah bahwa ia tidak pernah terburu-buru. Ia adalah perencana jangka panjang yang sangat sabar. Tidak ada pelaku dosa besar yang tiba-tiba melompat dari ketaatan sempurna ke jurang kemaksiatan kelas kakap. Semua bermula dari استصغار الذنب (istishghar adz-dzanb)—menganggap remeh dosa kecil. Dan laboratorium paling ideal untuk eksperimen dosa-dosa kecil ini adalah di ruang-ruang sunyi yang kita anggap privat.
Mungkin awalnya hanya “sekadar” melihat foto yang tidak seharusnya. Hanya “sekadar” penasaran dengan tautan yang mencurigakan. Hanya “sekadar” membuka obrolan yang tak perlu. Atau hanya “sekadar” menggunjing tanpa suara melalui pesan teks. Skala perbuatan itu memang tampak mini. Tapi esensi pembangkangannya kepada Allah di saat sepi justru sangat besar. Mengapa? Karena ia menunjukkan bahwa rasa takut kita kepada makhluk lebih besar daripada rasa takut kita kepada Al-Khaliq. Rasulullah ﷺ mengilustrasikan akumulasi dosa-dosa kecil ini dengan perumpamaan yang sangat mengena,
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ
“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh (kecil). Karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 dari Sahl bin Sa’d, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2687)
Perhatikan diksi hadis ini: يَجْتَمِعْنَ (berkumpul). Prosesnya seperti tumpukan debu halus yang lama-kelamaan menjadi gundukan tanah yang mengubur pelakunya hidup-hidup. Di tempat sunyi, tanpa saksi manusia, kita merasa satu dosa kecil tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita lupa bahwa Allah Ta’ala tidak melihat besar kecilnya wujud dosa, tetapi Dia melihat kepada siapa dosa itu ditujukan. Kemaksiatan di saat sendiri adalah bentuk paling vulgar dari sikap tidak peduli terhadap pengawasan Allah. Kemaksiatan adalah deklarasi pemberontakan diam-diam, “Aku tahu Engkau melihat, ya Allah, tapi aku tidak peduli karena aku lebih menikmati kenikmatan yang Engkau larang ini.” Wal’iyadzu billah. Dari titik inilah hati mulai mengeras, dari kesendirian yang kotor menuju kebinasaan yang abadi.
Paradoks sepi
Kita tidak boleh terjebak dalam sikap paranoid yang menganggap bahwa setiap bentuk kesendirian itu pasti buruk dan harus dihindari. Justru, dalam ajaran Islam, terdapat satu bentuk kesendirian yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Inilah yang disebut dengan الخلوة بالله (Al-Khalwah billah)—menyendiri bersama Allah. Jika saat sendiri kita memilih berteman dengan setan melalui kemaksiatan, maka itu adalah kehinaan. Namun, jika saat sendiri kita memilih “berteman” dengan Allah melalui ketaatan, maka itu adalah kemuliaan yang tiada tara.
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah,
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
Inilah bedanya. Ketika orang lain menggunakan kesendirian untuk menyalurkan syahwat yang haram, seorang mukmin sejati justru menggunakan kesendiriannya untuk mencurahkan isi hati hanya kepada Tuhannya. Saat tak ada manusia yang melihat, ia justru menangis karena takut kepada-Nya. Tangisan itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti autentik keimanan. Dalam momen inilah, kesendirian berubah fungsi dari selokan dosa menjadi taman surga. Al-Qur’an seringkali menggambarkan para Nabi dan orang saleh yang melakukan ibadah di keheningan malam, seperti firman Allah tentang Nabi Zakariyya,
إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam [19]: 3)
Doa yang tersembunyi, tangis yang tak diperdengarkan kepada manusia, sujud panjang di sepertiga malam terakhir—inilah harta karun yang hanya bisa digali saat kita sedang sendiri. Maka, paradoks ini harus kita renungkan: tempat yang sama bisa menjadi sebab datangnya azab, dan bisa juga menjadi sebab turunnya rahmat. Pembedanya hanyalah satu, yaitu: Siapa yang kita pilih untuk menemani? Apakah kita lebih suka ditemani bisikan setan yang menipu, ataukah kita lebih merindukan kehadiran Al-Malik (Sang Raja) yang mengawasi dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membentuk perjalanan spiritual kita kelak di akhirat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Lihat Talbis Iblis, hal. 331
Artikel asli: https://muslim.or.id/115025-saat-tak-ada-yang-melihat.html